Tiga Skenario Hidupkan Persebaya

BONEK yang merupakan suporter loyal Persebaya Surabaya telah melakukan langkah hebat. Mereka bahkan berhasil menekan PSSI untuk membahas keanggotaan Persebaya dalam konggres Oktober mendatang.

Tapi, langkah Bonek itu tidak akan ada artinya kalau manajemen Persebaya tidak bergerak. Langkah Bonek akan menjadi sia-sia kalau tidak ada tim yang disiapkan untuk berlaga di kompetisi resmi. Sebab, tanpa tim, Persebaya tetap akan tinggal nama. Karena itu, manajemen Persebaya harus segera membentuk tim. Tugas itu semata adalah kewajiban manajemen.

Menurut saya ada tiga skenario untuk menghidupkan Persebaya yang mati suri. Apa skenario itu?

Yang pertama, pihak yang paling bertanggungjawab membentuk tim adalah manajemen PT Persebaya Indonesia (PI). Dalam hal itu tentu Saleh Mukadar dan Cholid Goromah. Beliau berdualah pemilik sekaligus manajemen PT PI. Meski, keduanya mengaku mereka hanya pemegang saham milik klub anggota Persebaya.

Tapi mungkinkah manajemen mampu membuat tim? Kalau melihat performa mereka selama ini, masih jauh panggang dari api. Sampai saat ini manajemen belum mampu membayar utang gaji para pemain. Konon, total utang mereka sekitar Rp 9 miliar. Angka yang tentu tidak kecil.

Perusahaan mempunyai utang itu sejatinya biasa. Sepanjang perusahaan tersebut mempunyai aset. Nah, PT PI ini tak mempunyai aset. Satu-satunya aset hanyalah merek Persebaya. Mampukah dengan hanya memiliki aset berupa merek, mereka membentuk tim? Tampaknya sulit untuk berharap banyak.

Kalau PT PI tak bisa diharapkan, lantas siapa yang bisa membuat tim? Skenario kedua berharap ada pihak ketiga yang membeli saham PT PI. Tentu pemilik baru harus melunasi utang-utang Persebaya. Juga membeli saham sesuai dengan keinginan pemilik PT PI.

Nah, dengan hanya memiliki aset merek, masihkan ada pihak ketiga yang tertarik membeli Persebaya? Apalagi, merek sebagai satu-satunya aset itu sebetulnya tak layak didaku milik PT PI. Sebab, merek Persebaya bukan bikinan PT PI. Merek itu sudah ada jauh sebelum PT PI itu ada. Merek itu sebetulnya milik publik bola Surabaya.

Namun, kini secara hukum sudah menjadi milik PT PI. Tapi, merek itu bisa dikuasai publik lagi kalau digugat secara class action dan menang. Tentu itu butuh waktu. Karena itu, kurang tepat juga kalau merek itu dijual malah oleh PT PI. Sebab, mereka menjual barang milik publik.

Lalu berapa harga wajar saham PT PI? Hitungan kasarnya : valuasi/nilai merek Persebaya saat ini dikurangi utang perusahaan. Misalnya, jika merek Persebaya dinilai Rp 50 miliar terus dikurangi utang Rp 9 miliar. Maka harga jualnya Rp 41 miliar.

Kalau saham PT PI bisa dijual dengan harga tersebut, siapa yang untung? Tentu pemenang saham sekarang. Persoalannya siapa yang mau membeli perusahaan tanpa aset? Rasanya hanya orang yang betul-betul gila bola. Itu pun jika nilai jualnya masuk akal.

Ibaratnya kita menunggu orang gila yang membuang sial dengan membelanjakan uangnya dalam jumlah besar. Sebab, jika nilai jualnya Rp 50 miliar, maka investor baru harus menyediakan dana Rp 100 miliar. Rp 50 miliar untuk membentuk tim dan operasional setahun. Sungguh jumlah yang tidak sedikit.

Jika skenario satu dan dua tidak berjalan, lalu apa yang bisa dilakukan? Skenario ketiga : kembali ke khittah. Mengembalikan kepemilikan Persebaya kepada pemilik asli. Siapa pemilik asli Persebaya? Klub anggota Persebaya. Yakni klub-klub amatir yang mendirikan Persebaya.

Sayangnya klub anggota Persebaya itu sekarang terpecah. Mereka tercerai berai menjadi dua kelompok. Maka, tantangan pertama adalah mempersatukan klub anggota Persebaya. Maukan mereka? Barangkali kawan-kawan Bonek mau mendesak klub anggota untuk bersatu kembali demi Persebaya. Demi kebanggaan arek Suroboyo.

Setelah mereka bersatu, mereka bisa membuat PT baru. Dengan demikian, mereka tidak harus dapat warisan utang. Lalu bagaimana dengan mereka Persebaya? Mereka bisa meminta kepada PT PI untuk menghibahkan. Kalau tidak dihibahkan, klub anggota tentu tidak berhak menggunakan mereka itu secara hukum. Kalau ngotot tentu bisa digugat setiap saat.

Apakah klub anggota mampu menyetorkan saham dan modal untuk PT baru? Mungkin sulit diharapkan. Tapi, mereka bisa menyetorkan pemain. Setiap klub setor dua pemain. Pemain klub itulah kemudian divaluasi menjadi saham.

Lantas bagaimana operasionalnya? Ini yang perlu pemecahan. Mungkin perlu menjual sebagian sahamnya. Misalnya, 30 persen, 40 persen, 50 persen, atau 60 persen. Sebaiknya juga ada sebagian saham suporter. Syaratnya, suporter harus membuat badan hukum. Entah itu koperasi, yayasan, atau PT. Biar suporter ikut memiliki.

Nah, di titik inilah Pemkot Surabaya diharapkan turun tangan. Mereka bisa menyewakan stadion beberapa tahun. Sewa stadion itu dibayar dengan saham. Saham Pemkot Surabaya bisa diatasnamakan BUMD. DPRD Surabaya harus menyetujui setoran modal dalam bentuk sewa stadion itu. Maka tim baru tersebut akan kembali menjadi milik publik kota Surabaya. Manajemen PT baru tersebut serahkan kepada profesional.

Rasanya, tiga skenario itu yang bisa menghidupkan Persebaya dari mati suri. Harus segera dipilih salah satunya. Kalau tidak, maka persoalan Persebaya akan terus mbulet seperti kentut di ruang tertutup. Membikin sumpek dan bau.

*Mantan Ketua Umum Persebaya

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*