Persebaya Era 1970-an Reuni di Empire Palace

SURYA Online, SURABAYA – Sebanyak 29 mantan pemain Persebaya Surabaya era 1970-an berkumpul di Empire Palace, Jl Blauran, Surabaya, Kamis (27/6/2013). Mereka bertemu untuk melepas kangen dan bercerita tentang pengalaman masing-masing saat masih mengenakan jersey Tim Bajul Ijo.

Ajang reuni ini sekaligus bebarengan dengan acara pertunangan anak keempat dari Salim Bahmid, gelandang Persebaya era 1970-an. Meski usia mereka sudah tidak mudah lagi, namun dari senyum dan gerak-geriknya, mereka masih terlihat lincah sebagaimana ketika bermain untuk Persebaya dahulu.

“Insan sepak bola sekarang semestinya harus tahu tentang sejarah pemain-pemain Indonesia pada era sebelumnya. Sebab pemain terdahulu adalah yang membuka gerbang atau yang mengawali perjuangan sepak bola nasional,” kata Salim membuka obrolannya dengan Surya Online, Kamis (27/6/2013).

Rencananya, usai pertemuan ini, mantan-mantan pemain Persebaya ini akan menggelar acara serupa secara rutin. Tak hanya itu, mereka juga berencana akan mendirikan Akademi Sepak Bola Sawunggaling 77. Nama Sawunggaling 77 ini digunakan karena Tim Sawunggaling yang diisi pemain-pemain junior Persebaya merebut gelar juara Suratin Cup 1977.

“Akademi Sepak Bola Sawunggaling 77 akan kami dirikan secara independen. Dari sini kami akan mencetak bibit-bibit pemain muda yang nantinya bisa bermain secara professional,” kata Salim yang di forum ini menjadi orang yang dituakan.

Dari sekian memori yang terbenam di benak para veteran Persebaya ini, pertandingan lawan Arsenal pada tahun 1983 adalah yang paling indah. Di laga persahabatan itu, Niac Mitra (kontestan Galatama saat itu) yang dihuni banyak pemain asal Persebaya (kontestan Perserikatan) berhasil mengalahkan Arsenal dengan skor 2-0, di Stadion Gelora 10 November Surabaya. Dua gol Niac Mitra dicetak oleh Djoko Malis Mustafa dan pemain asing asal Singapur, Fandi Achmad.

“Bisa mengalahkan Arsenal adalah suatu kebanggaan bagi kami, khususnya Arek-Arek Suroboyo. Kami bisa mengalahkan Arsenal yang saat itu juga diisi oleh pemain-pemain Timnas Inggris,” timpal Djoko Malis Mustafa.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*