Ogah Bicara Politik Sepak Bola, Lebih Banyak Canda dan Nostalgia

Persebaya Surabaya pernah meraih puncak kejayaan besar dalam pentas sepak bola Indonesia dengan berhasil menjuarai kompetisi Divisi Utama Perserikatan pada 1987–1988. Kemarin (5/11), setelah 25 tahun berlalu, The Dream Team Persebaya itu melakukan reuni.

Rumah di Jalan Rungkut Lor Blok RL 5i No 29 Surabaya itu mendadak ramai siang kemarin. Di depan rumah bertingkat dua tersebut, terlihat puluhan mobil mewah yang diparkir secara pararel memenuhi kedua bahu jalan perumahan. Itu adalah rumah Nuryono ’’Yoni’’ Hariadi, sang kapten Persebaya Surabaya yang sukses meraih gelar juara Divisi Utama Perserikatan musim 1997–1988. Itu adalah gelar bergengsi. Sebab, saat itu kompetisi
belum berubah menjadi liga nonamatir yang kini menjadi ISL.

Hari itu Yoni memang sengaja mengundang semua pemain yang tergabung dalam skuad The Dream Team tersebut. Dalam hitungan acak, tampak sekitar 20 mantan pemain sekaligus para pelatih dan pengurus Persebaya yang berkumpul. Ruang garasi mobil yang sejak awal disulap menjadi aula pertemuan tersebut mendadak ramai dengan celetukan canda dan tawa.

Hampir seluruh mantan pemain Persebaya hadir dalam pertemuan itu, mulai mereka yang berposisi sebagai kiper seperti I Putu Yasa, Usnadi, Machrus Afif. Kemudian, ada Muharom Rusdiana, Usman Hadi, Yongki Kastanya, Yusuf Mony, Budi Yohanis, Nuryono, Zainal Suripto, Seger Sutrisno, Yusuf Ekodono, Putut Wijanarko, Syamsul Arifin, Mustaqim, Nanang Harmuji, dan Marsaid.

Sementara itu, dari pengurus, ada Subodro, tokoh bola Iwan Safi’I, dan Dr Abdel Razak Bawazier. Sebenarnya, selain mereka, masih ada deretan nama seperti Ibnu Grahan, Maura Hally, Hasan Maghrobi, serta Subangkit. Hanya, mereka tak bisa hadir dalam pertemuan itu lantaran sedang memiliki keperluan lain. Rata-rata di antara mereka memilih melan jut kan karir sebagai pelatih. Namun, ada juga yang mendapat jabatan apik di lembaga pemerintahan.

’’Sebenarnya ide untuk bersilaturahmi ini ada sejak lama. Namun, kami baru me nemukan waktu yang pas saat ini. Pertemuan ini merupakan silaturahmi untuk lepas kangen antar sesama mantan pemain. Kami tidak mau bicara politik sepak bola di sini,’’ kata Nuryono Hariadi.

Menurut dia, itu adalah silaturahmi pertama yang terjadi sesama mantan pemain era 1988-an. Memang, selama ini sering ada pertemuan di antara pemain Persebaya. Tapi, itu dilakukan untuk pemain Persebaya secara keseluruhan. Memang, dalam pertemuan yang berlangsung gayeng itu, tidak ada satu pun wacana politik sepak bola yang mencuat. Meski, semua orang tahu bahwa tim yang dulu mereka bela itu sekarang terbelah.

Karena tak ada kepentingan apa-apa selain silaturahmi, pertemuan tersebut mengalir ceria dan didominasi dengan nostalgia penuh canda dan tawa. Alhasil, acara yang dipandu langsung oleh Supangat, pembawa acara gaek yang terkenal dengan suara serak basahnya itu, berubah seperti forum stand up comedy mini.

Bagaimana tidak, setiap mantan pemain yang diberi kesempatan untuk berbicara pasti memiliki cerita lawas yang penuh humor. Selain itu, acara yang dilanjutkan dengan makan siang bersama tersebut menjadi forum curhat antar pemain. Salah satunya adalah I Putu Yasa yang mengingatkan kembali semua mantan pemain Persebaya itu tentang janji rumah yang akan diberikan pengurus setelah berhasil meraih juara.

’’Teman-teman, saya melihat manusia yang memiliki jiwa sportivitas paling tinggi, ya kita-kita ini. Kalian masih ingat kan saat dijanjikan rumah, tapi sampai saat ini rumah itu tidak pernah diberikan. Namun, semua pemain juga tidak merengek dan menuntut. Padahal, gara-gara janji itu, saya langsung menikah dengan harapan dapat rumah baru. Ternyata, janji palsu juga,’’ keluh pria yang juga pegawai bea cukai itu. Rencananya, tahun
depan acara yang sama juga dilakukan di kediaman Mustaqim. (*/c17/ko)

Sumber: Jawa Pos

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*