Kompak Dukung Persebaya IPL


Jawa Pos, SURABAYA – Persebaya Surabaya tidak akan berjuang sendirian untuk mencari keadilan. Sebab, mayoritas klub anggota Green Force, julukan Persebaya, mulai me rapatkan barisan dan menyatakan siap memperjuangkan status Persebaya sebagai anggota PSSI.

”Tim ini milik kami, milik anggota klub dan semua masyarakat Kota Surabaya. Kami tidak akan pernah tinggal diam kalau hak kami direbut begitu saja,” ucap Kaharudin, sekretaris Fatahillah, salah satu klub anggota Persebaya, dalam kon ferensi pers di mes Persebaya kemarin (8/10).

Acara itu diikuti perwakilan beberapa klub, yakni Fatahillah, El Faza, dan Vila Royal. Mereka didampingi CEO Persebaya Cholid Ghoromah

Menurut Kaharudin, perjuangan yang mereka usung tersebut bukan hanya gertakan. Pasalnya, hal serupa pernah mereka lakukan pada 2011. Saat itu Wishnu Wardhana yang menjabat ketua DPRD Kota Surabaya mendirikan Persebaya tandingan dan berkompetisi di Divisi Utama PT Liga Indonesia.

”Saya masih ingat betul perjuangan kami saat itu berhasil. Karena Djohar Arifin (ketua PSSI, Red) sendiri yang langsung mengesahkan status kami menjadi Persebaya yang sah. Kami yakin, dengan semua data dan bukti yang kami miliki, perjuangan kami juga akan berhasil sempurna,” tutur Kaharudin, lantas diamini oleh Ismadi, ketua harian El Faza Surabaya.

Hal senada dikemukakan oleh Ketua Umum Vila Royal Peter Sahelangi. Menurut Peter, mengakomodasi Persebaya Surabaya yang saat ini lolos ke Indonesia Super League (ISL) dan menghilangkan Persebaya yang
berkompetisi di Indonesian Premier League (IPL) adalah bentuk kezaliman terstruktur.

”Semua kebijakan yang dilakukan oleh PSSI saat ini adalah bentuk pembodohan secara masal dan masif. Semuanya sederhana saja, Persebaya yang asli adalah yang punya klub anggota. Dan semua juga tahu, Persebaya yang punya klub anggota itu hanya Persebaya di IPL,” tegasnya.

Peter menegaskan, tim yang akan melawan tersebut berjumlah 20. Antara lain, Pelabuhan III, Putra Mars, El Faza, Mitra Surabaya, Fatahillah, Maesa, Al Rayyan, Bintang Angkasa, Bintang Timur, dan Haggana. Juga HBS,
Indonesia Muda, Polda Jatim, PSAL, Pusura, Sasana Bhakti, Semut Hitam, TEO, Untag Rosita, dan Vila Royal Anak Bangsa.

Selain mereka, mantan pemain Persebaya juga ikut pasang badan dalam perla wanan itu. Subodro, penggawa Persebaya pada 1960-an, adalah salah satu yang tidak mau ketinggalan dalam perjuangan status Persebaya. ”Saya sebagai salah satu pelaku dan saksi hidup dari sejarah besar tim ini,” tegasnya. (dik/c11/ko)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*