Kisah Evan Dimas: Ditolak SAD Uruguay, Diterima di Barcelona [2]

Kota Surabaya memang tak pernah berhenti melahirkan bintang-bintang besar di sepakbola Indonesia. Mulai dari era Syamsul Arifin, Bejo Sugiantoro, hingga Andik Vermansyah, dan yang terbaru Evan Dimas.

Nama Evan Dimas memang menjadi buah bibir setelah sukses menjadi kapten Timnas Indonesia U-19 di ajang Piala AFF dan kualifikasi Piala Asia 2014. Evan mengaku pertama kali menekuni sepakbola sejak kelas 4 Sekolah Dasar (SD).

Ia sempat menimba ilmu sepakbola saat bergabung di SSB Sasana Bhakti (Sakti) bersama saudara sepupunya, Feri Ariawan. Bakatnya semakin terasah, ketika masuk SSB Mitra Surabaya pada 2007, saat itu Evan masih berusia 12 tahun.

Di lapangan hijau, putra sulung dari empat bersaudara pasangan Condro Darmono-Ana itu berperan sebagai gelandang. Meski posturnya mungil, namun daya jelajahnya sangat tinggi. Tak hanya itu, kaki kiri dan kanannya juga ‘hidup’. Evan juga dikenal sebagai gelandang yang memiliki tenaga luar biasa.

Semangatnya seperti tak pernah habis untuk mengejar kemenangan tim yang dibelanya. Hanya satu yang menjadi kelemahannya saat ini, yakni kontrol emosi. Sebuah hal yang memang lumrah dialami pemain muda.

Mitra Surabaya Jadi Klub Pertama

Mitra Surabaya, salah satu klub yang berada dalam naungan kompetisi internal PSSI Surabaya, menjadi tim pertama yang dibela Evan. Penampilan gemilangnya bersama Mitra, membuat namanya termasuk dalam skuat Surabaya untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) III Jatim 2011.

Usai tampil mengesankan di Porprov, menjadi tiket Evan masuk dalam tim sepakbola Jatim untuk PON 2012 di Riau. Selain itu, ia juga tercatat sebagai pemain tim Divisi II, Surabaya Muda.

Karier Evan bersama Mitra Surabaya kemudian meroket hingga akhirnya berhasil mendapat kesempatan mengikuti seleksi bersama Persebaya U-15 dan Medco Jawa Timur U-15. Evan berhasil lolos di kedua klub tersebut.

Dari SSB Mitra Surabaya inilah talenta istimewa Evan mulai terlihat oleh sang pelatih. Di setiap event seleksi dan turnamen sepakbola, Evan tidak pernah absen mengikutinya, termasuk dalam ajang pemilihan pemain sepakbola usia muda. Salah satunya adalah pemilihan pemain sepakbola berbakat yang disebut program Deportivo SAD pada tahun 2008.

Dinilai Buruk dalam Seleksi Deportivo SAD

SAD Indonesia atau sekarang dikenal sebagai Deportivo Indonesia adalah salah satu program pembinaan pesepakbola usia dini PSSI era Nurdin Halid secara instan.

Ketika itu, PSSI mengirimkan puluhan pemain hasil seleksi didikan dalam negeri (Liga Pendidikan Indonesia) ataupun pemain rekomendasi dari pemandu bakat untuk belajar sepakbola di negeri dua kali juara Piala Dunia, Uruguay selama 4 tahun. Program ini dimulai pada tahun 2008 dan selesai pada tahun 2012 dengan keterangan akan diperpanjang jika program ini berhasil.

Dengan talentanya itulah akhirnya Evan Dimas termasuk yang diplot untuk bisa mengikuti program Deportivo SAD di Uruguay di tahun 2011, Tetapi oleh karena sesuatu hal Evan Dimas tak jadi berangkat mengikutinya, karena lebih ke permasalahan administrasi.

“Sayang saya tidak lolos seleksi SAD. Kegagalan itu tidak membuat saya patah semangat, saya terus berlatih hingga akhirnya mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi Porprov Jatim dan tim PON Jatim, alhamdulillah masuk,” kenang Evan.

Selain masalah administrasi, beberapa sumber menyatakan Evan Dimas tak terpilih dalam seleksi pertama karena penilaian dari beberapa pelatih sangat buruk baginya. Bahkan, dia berada di urutan terakhir dalam seleksi pertama ketika itu.

Tetapi kegagalan mengikuti program tersebut justru membuahkan banyak sekali kesempatan di Tanah Air. PSSI di bawah Ketua Umum Djohar Arifin mencanangkan program usia dini berjenjang. Evan Dimas masuk dalam program tersebut.

Merasakan Atmosfer Barcelona

Tak hanya moncer di level lokal, pemilik nama lengkap Evan Dimas Darmono ini akhirnya melambung hingga ke tingkat nasional. Ia menyandang ban kapten Tim Nasional (Timnas) U-17 Indonesia, sekaligus sukses mengantar Garuda Muda menjuarai HKFA International Youth Invitation Tournamen di Hong Kong, awal 2012.

Setelah mengharumkan nama Indonesia di Hong Kong, nama Evan kembali berkilau pada Juni 2012. Ketika itu, Evan terpilih sebagai wakil Indonesia dalam ajang pencarian bakat bertajuk ‘The Chance’, yang disponsori oleh salah satu apparel terkenal. Ia pun akhirnya berhak terbang ke Barcelona, menyisihkan ratusan ribu pemain muda lainnya di Indonesia.

Di Barca, Evan mendapatkan pelatihan dan arahan langsung dari eks pelatih Barcelona Pep Guardiola. Evan bersaing dengan 100 anak lainnya dari 55 negara. Ia harus kerja all-out dan tidak minder, jika ingin keluar sebagai yang terbaik di ajang ini.

“Saya tidak pernah menyangka, bisa mendapat kesempatan ini. Target saya adalah lolos 16 besar ajang tersebut,” ucap Evan dengan nada terharu mengingat masa lalunya.

Selain Evan, ada tiga pemain asal Asia Tenggara yang juga terpilih. Seperti striker 24 tahun asal Malaysia Rahmat Che Hashim, gelandang 19 tahun dari Thailand, Napapon Sripratheep, dan gelandang berusia 20 tahun asal Singapura Muhammad Faris Bin Ramli.

Dari 16 pemain yang lolos babak 16 besar, akan dipilih lagi empat orang yang akan mendapat pelatihan khusus dari jajaran pelatih di Nike Academy, yang bermitra dengan Liga Primer Inggris.

Mantan kapten Persebaya dan juga mantan asisten Freddy Muli saat membesut Gresik United, Mursyid Effendi menganggap, Evan memang pantas terpilih mewakili Indonesia.

Mursyid yang membawa Evan masuk ke skuat Mitra Surabaya, bahkan menyebut pengagum Xavi Hernandez itu sebagai ‘anak ajaib’, karena luar biasanya talenta yang dimiliki oleh anak pertama dari empat bersaudara itu.

Di Spanyol, dia mendapat kehormatan berfoto berdampingan dengan pemain Barca ketika itu Thiago Alcantara. Selain Thiago, dalam foto itu ada juga Alexis Sanchez, dan Sergio Busquets.

Sumber: Liputan6.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*