Kenapa harus Persebaya yang selalu diserang?

Saleh Ismail Mukadar mengaku heran dengan pihak-pihak yang selalu menyerang dan Persebaya Sehubungan dengan dana hibah Pemkot lewat KONI Surabaya tahiun 2009.

Anggota DPRD Jatim ini berangapan ada upaya kriminalisasi terhadap dirinya dan Persebaya., untuk mengambil keuntungan dari kasus ini. “Kenapa harsus Persebaya dan Saleh Mukahar yang selalu diserang,” tanyanya.

Padahal, masih menurut mantan Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, larangan penggunaan APBD itu keluar tahun 2011. “Sedangkan kami menerima dana hibah Koni tahun 2009. Pada waktu itu belum ada aturan soal sepak bola profesional seperti sekarang,” imbuhnya,

Saleh juga heran banyak orang menyebut dirinya menerima Rp 17,3 miliar, padahal faktanya Dana Alokasi Khusus (DAK) hanya sebesar Rp 9 miliar.

Lagi pula, lanjutnya, kasus itu sudah dibatalkan penyelidikannya. Itu membuktikan bahwa tidak ada aturan yang dilanggar. Pihaknya juga hanya menerima dana tersebut satu kali, sementara klub lain bahkan ada yang hingga kini masih menggunakan APBD.

“Intinya saya tidak pernah takut dan akan saya hadapi meski harus berhadapan dengan penjara sekalipun,” ucap dia meyakinkan.

Ketika disinggung tentang kondisi keuanngan Persebaya, pada saat menerima dana hibah Pemkot lewat KONI Surabaya. Saleh blak-blakan bahwa kas Persebaya kosong.

Terhadap pihak yang seolah-olah terus mendorong kasus ini di mejahijaukan, Saleh menduga ada yang menghendaki klub kebanggaan Arek Surabaya ini tia eksis lagi.

“Ini pasti., ada pihak yang ingin membubarkan pelan-pelan Persebaya. Ingin membungkam Saleh Mukadar agar tidak bersuara. Termasuk soal keaslian Persebaya 1927, karena sejarah Persebaya dari jaman ngga enak sampe sekarang, cuma Persebaya 1927 yang punya,” paparnya.

Saleh bahkan mengaku pihaknya sering menerima teror. Sayangnya, dia enggan menjelaskan teror seperti apa yang dia maksud. “Pokoknya teror. Tidak etis kalau saya ungkapkan seperti apa bentuknya,” cetus dia.

Sementara itu, Saleh mengaku dirinya tidak tahu menahu mengenai gugatan yang dilayangkan kapada pihaknya, ke Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional atau Court of Arbitration for Sport (CAS) terhadap PSSI. Walaupun demikian, dia membeberkan jika saat ini, prosesnya masih dalam tahap pemeriksaan.

“Katanya masih pemeriksaan. Mungkin dalam waktu dekat ada putusan. Soalnya sudah sidang dua kali,” tutur Saleh Mukadar.

Sebelumnya perseteruan Persebaya 1927 dengan PSSI berawal dari kisruh di kepengurusan PSSI yang memunculkan dualisme pengurus. Satu pengurus diketuai Djohar Arifin Husein dan pengurus lainnya membentuk Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia diketuai La Nyala Matalitti.

Dualisme kepengurusan tersebut menyebabkan Persebaya 1927 dan sejumlah klub lainnya terpecah menjadi dua. Persebaya pecah menjadi Persebaya Divisi Utama Liga Super Indonesia (LSI) dan Persebaya 1927 berkompetisi di Liga Prima Indonesia (LPI).

Ketika perseteruan penggurus PSSI berakhir, ditandai dengan bersatunya Djohar dan Nyala, keanggotaan Persebaya 1927 tidak diakui. PSSI hanya mengakui Persebaya yang berkompetisi di Divisi Utama. Hal inilah yang kemudian membuat Persebaya 1927 menggugat PSSI melalui CAS.@anne

Sumber: LensaIndonesia.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*